Apabila saya mengambil keputusan untuk berhenti memblog sementara, niat mulia saya itu direstui Tuhan dengan menghibernasikan saya.
Minggu lepas saya jatuh demam. Mungkin dek cuaca sejuk yang terlampau - saya pun musykil, adakah sekarang sudah masuk musim panas, tetapi mengapakah cuaca sejuknya begitu ekstrim sehingga baju pun terpaksa dipakai berlapis. Masih ada hail shower yang kemudian berganti hujan lebat merintik dari langit. Barangkali juga saya sebenarnya homesick, tahun lepas, saya menghabiskan enam puluh lapan peratus bulan Mei saya di Malaya.
Kala mengerekot dalam duvet itulah, lelaki itu datang memicit buzzer, membawa bahagia. Barangkali ada hikmahnya saya demam, duduk di rumah dan dua bungkusan itu saya terima sendiri dari tangan posmen yang membawa.
Dua bungkusan itu, satu dari Malaya dan satu lagi dari United Kingdom. Buku, kedua-duanya.
Dan dua hari yang sepatutnya bosan melingkar di rumah dengan sakit kepala dan rasa entah apa-apa, saya selamat mengkhatam Bila Tuhan Berbicara Faisal Tehrani dan Sajak-Sajak Suci Abdullahjones. Mereka hadir tepat pada masanya dan menjadi pengubat homesick saya.

Saya tidak pandai mengulas buku. Zaman ‘Menulis Sinopsis dan Ulasan Buku-buku yang Saya Telah Baca’ terlalu lama saya tinggalkan semenjak meninggalkan alam persekolahan. Apatah lagi mengulas buku sajak. Sudahlah saya ini tiada reti menulis sajak, mahu mengulas pula sajak-sajak orang yang handal bersajak seperti Abdullahjones.
Abdullahjones saya kira berada dalam ruang ‘niche’ yang tersendiri dengan sajak-sajaknya. Saya tidak tahu apa perkataannya, barangkali saya disihir suka dengan sajak-sajak yang berbeza daripada sajak-sajak yang pernah saya baca.
Ada beberapa sajak yang saya suka dalam Sajak-Sajak Suci. Bukanlah bermakna sajak-sajak lain saya tidak suka, tapi dalam banyak-banyak sajak, pasti ada yang lebih memikat hati. Seperti sajak-sajak cinta-kecewa asmara suatu ketika dan pemanas udara yang sejuk (ain sembilan puluh satu) dan sajak-sajak sikap manusia akhir zaman seperti encik, anak saya hilang, baliklah linda, pesan politik mak saya, grafiti ii, dan blues. catatan buat mok ii dan mabuk rindu ii pula sangat membekas di nubari saya, mungkin kerana berjauhan dengan mak dan famili kala ini. Dan satu sajak yang paling saya suka, tanpa tajuk tidak bernombor, yang ditulis mewakili sikap ketidakpedulian dan ketidakmampuan bertindak sebahagian besar daripada kita, berjaya menyentuh sukma saya sehingga ke dasarnya.
ada yang boleh kami bantu?
selain berdoa untuk
keamananmu
ada apa yang perlu
kami tambah?
selain bersedih
atas kemurunganmu
kami yang jauh
tidak bisa menahan
ombak besar
kami yang jauh
tidak bisa menangkis
peluru
maafkan kami
duhai saudara,
kami umat mereng
yang tiada cinta
rindu
kekal begitu tidak
bertemu
18/05/07
Tiada ruginya jika kamu koleksikan buku puisi ini dalam kutubkhanah kamu (atau daftarkan dalam
Librarything) dan kongsikan dengan anak cucu cicit kamu nanti.Boleh dapatkan daripada
Amir Mukhriz atau lawat sendiri blog Abdullahjones.Kepada Encik Jones, sila teruskan menulis manuskrip encik, ya!
Saya akan berada di luar Kota Dublin selama beberapa hari.
Jika cuaca cantik (baca: tidak hujan), dan saya sempat berjalan-jalan mengagumi ciptaan Tuhan, saya akan upload foto-fotonya kemudian.
Kita akhiri pertemuan singkat ini dengan Surah Al-Asr dan Tasbih Kifarah.
Salam.